Rabu, 17 Oktober 2012

O, PENYAIR

ada saat kaki semut keakuan dan para kambing berpesta akuguling

o, penyair
sarapan apa embun pagi ini?

lihat gigimu yang kuning terang
sebagai jejak rapalan mantra emas
lihat pula gigiku merah bata, menyugi darah
gemeletuk usai mendeklamasikan rindu dan cinta

hummm ... hummm
husss, jangan terlalu koar!
cermin sedang berdandan menyambut wajah badut
akukamu sabar sajalah nunggu pecahnya
sebab retak telah nyata meraja

pagi memecah kepalaku keping tiga
o, penyair ...
apa kabar diksi, rima, metafora?
simsalabim, dibantu, yaa ...
jadi apa, jadi apa, jadi apa?
jadilah akukamu berebut antolologi dusta

sarapan apa embun pagi ini?
entahlah, coba kautanya pada rembulan kesiangan
yang menari di sela ilalang

2012

MENANTI TUMPAH

Sayangnya aku lupa tarian itu
Bisa jadi tanpa busana, dengan telanjang
polos. Lalu mengitari tumpukan puisi kering.
Bisa jadi bersorak lantang jejingkrak
hubahuba habehabe
: agar langit menumpah cinta.

Sajak mana yang mangkus memanggil cinta
ohai, pujangga, tahukah?
Lantangkanlah sambil tengadah,
bisa jadi sajakmu pengganti doa
dan langit dengan girang menumpah cinta.
Bisa jadi Allah iba melihat kita
yang tiap hari menulis puisi kering, sajak kerontang
di tanah yang 'lah lelah menanti cinta tumpah
serupa bayi merindu tetek ibunya.

2012

MERAK

berahi ini mengubun
genit goda di depan mata
ini sedang musimnya. betapa gelinjang
membuta otak dan napasku engah ... huff!

wajar saja aku ingin kamu larut
dalam pesta nafsu yang awut
lihat, lihatlah buluku kibar

merapat sini, beib
penuhi undanganku yang api
terbakar bersama. lalu akukamu mati

2012

DITIKAM RINDU

Sebelum mati, ingin kucari jejak angin
Bermula di dua kenangan: rambutmu yang pecah ujung
dan bibir tak mengatup sempurna

Kekosongan ini begitu menyiksa, S
Delapan penjuru tak jua memberi rambu
Angin pura-pura tak tahu. Rahasia jejak terkubur di desir jam pasir
Melulu sesat memburu ingatan. Kala senja melenggang, rindu menebal
Sungguh ingin aku, menghirup malam beraroma wangi ketiakmu

2012

TAK MESTI DIMENGERTI

andai o andai, peta ini adalah abatasa yang sedari kecil biasa kubaca. tentu tak meraba lagi diri ini. mencari dan mencari, o betapa. sedang langit bercerita banyak. lewat angin, lewat tetes wingit yang dirindu selalu, pun lewat sunyi yang kerap.

menitah cuaca, telunjukmu lelah sudah. o, andai diriku adalah buku cerita bergambar bagimu. tentu tak pernah kau berusaha begitu keras; membaca dan coba mengerti aku. cukup pandangi lembarku ini dan mengangguklah serupa paham. tapi tak, aku bukan.

akukamu sama buta. menabrak dinding kebodohan dengan sangka-sangka. senyum-senyum meski musim menggamang. aku dan hidup ini selalu coba dimengerti, padahal tak mesti.

2012

ANAK ULAR ITU

anak ular itu punya cita-cita menjadi pedagang asongan. sedang ibunya adalah ratu sejati dengan kilap sisik aduhai. aku tak setuju, kutawarkan padanya menjadi pedagang kaki lima. anak ular itu menggeleng keras meski kubilang ia telah merendahkan derajat kaum. baginya, tak pernah ada dalam sejarah, ular berkaki lima

aku tak memaksa, lalu kusarankan ia tumbuh wajar saja. menjadi ular jantan perkasa yang bertahta di pokok beringin. meski di pinggir kampung, andai untung, akan disebut naga dan penduduk akan tahu arti keramat

anak ular itu tertarik, lalu merapal mantra. entah salah baca, entah kenapa, anak ular itu sekarang menjadi cacing dan kupakai sebagai umpan mancing

2012

METRUM

ingatan hanyut; larik di matamu sabtu malam
bintang senguk terhidu ketiakmu yang amber
ketukan waktu satu-satu menuju
pastinya dini hari pasti

tak pernah ada ad libitum di kisah klasik ini
akukamu bergantung tonggak, meski tak sama dan aku elak
tetap hanyutku seirama jentikmu saja, o kasih

2012