Rabu, 29 Agustus 2012
MAKIN GELAP
Aku rindu kamu mandi.
Agar pesan rumput dibawa angin melewati sabun, odol dan buih. Kesuraman begitu pekat dan sesak menuju kolam limbah. Ada bangkai hati di ketiak pelangimu. Tiap garis warnanya adalah tempat kesombongan bertengger bersama gagak. Busuk.
Agar pesan rumput dibawa angin melewati sabun, odol dan buih. Kesuraman begitu pekat dan sesak menuju kolam limbah. Ada bangkai hati di ketiak pelangimu. Tiap garis warnanya adalah tempat kesombongan bertengger bersama gagak. Busuk.
Aku rindu, kamu mandi.
Semakin mustahil kita satukan rasa sengkarut ini. Dadaku lebam sudah menanggung hantam godam tak acuhmu. Berdendang, kau anggap aku tak ada di lega tarikan napas. Lalu, siapa yang menggantungi parumu? Kecipak air bak mengaduk kenangan. Bising.
Aku rindu kamu, mandi.
Karena tebal dusta melapisi kulitku. Pori tertutup dan mendakikan seringai iblis. Rasa seabad sudah. Wajar kau jauh. Membangun istana bertanda larangan masuk bagi si dungu ini. Sesekali nitip salam lewat mimpi. Sekadar tanda pernah kenal dan kesopanan timur wanita lelaki. Jernih air tetaplah langka. Junub.
Aku rindu kamu ...
dan mandi hanyalah ingatan prosesi dahulu yang kuperkosa sebagai pelengkap penderita demi sampai pesan ke telingamu. Ingatlah, aku kamu pernah mandi di kucuran puisi yang kini makin gelap saja.
2012
Semakin mustahil kita satukan rasa sengkarut ini. Dadaku lebam sudah menanggung hantam godam tak acuhmu. Berdendang, kau anggap aku tak ada di lega tarikan napas. Lalu, siapa yang menggantungi parumu? Kecipak air bak mengaduk kenangan. Bising.
Aku rindu kamu, mandi.
Karena tebal dusta melapisi kulitku. Pori tertutup dan mendakikan seringai iblis. Rasa seabad sudah. Wajar kau jauh. Membangun istana bertanda larangan masuk bagi si dungu ini. Sesekali nitip salam lewat mimpi. Sekadar tanda pernah kenal dan kesopanan timur wanita lelaki. Jernih air tetaplah langka. Junub.
Aku rindu kamu ...
dan mandi hanyalah ingatan prosesi dahulu yang kuperkosa sebagai pelengkap penderita demi sampai pesan ke telingamu. Ingatlah, aku kamu pernah mandi di kucuran puisi yang kini makin gelap saja.
2012
Jumat, 24 Agustus 2012
PERANG SUKU MAYA
pada pertempuran ke sekian, ada yang terkapar
di
hingar bingar pekikan perang, terpanah
kala lesatan racun sudah
bukan barang baru, begitu pula
persekongkolan sesuku
ada yang
terkapar, letih nian
dan aroma darah bercampur kebencian adalah
penyemangat seteru
tiada peduli ada hati yang ikut tercabik
suku maya berperang entah untuk apa ...
anehnya, aksara menjadi
satu-satunya senjata
2012
ada yang terkapar, letih nian
dan aroma darah bercampur kebencian adalah penyemangat seteru
tiada peduli ada hati yang ikut tercabik
suku maya berperang entah untuk apa ...
anehnya, aksara menjadi satu-satunya senjata
2012
SAJAK PADANG FANA
aku domba, katanya
menggigit pucuk padang dengan
keompongan yang semakin
lalu menjilat terik sebagai obat dahaga,
pret!
aku gembala, katamu
berkipas caping
menatap ujung padang mencari lahan subur
lalu menangkap angin
pembawa kabar, pret!
aku kamu, kataku
menjadi domba atau
gembala sesuai hadir musim
lalu rebah di padang kerontang
menangisi kesombongan
hujan
duh!
2012
berkipas caping menatap ujung padang mencari lahan subur
lalu menangkap angin pembawa kabar, pret!
aku kamu, kataku
menjadi domba atau gembala sesuai hadir musim
lalu rebah di padang kerontang
menangisi kesombongan
hujan
duh!
2012
MENANAM CINTA DI WAJAHMU YANG ENTAH
bibit kasih yang dahulu engkau titipkan
lewat
kerap jumpa dan sapa, kini siap
kutanam sebagai cinta matang
meski tetap bersahaja
aku ingin menanamnya di wajahmu
agar
tumbuh subur dan selalu
dapat kutatap mesra
ingin kulihat
cinta mekar di wajahmu
agar rindu punya alasan tepat
untuk
hadirkan debar
masih kugenggam bakal cinta ini
sementara
wajahmu berpinak di tiap ruang
entah rupa mana sebenar engkau
tiap wajah mengundang tanya mengundang duga
mengundang ketakpastian
tempat bertanam
: aku galau
2012
agar tumbuh subur dan selalu
dapat kutatap mesra
ingin kulihat cinta mekar di wajahmu
agar rindu punya alasan tepat
untuk hadirkan debar
masih kugenggam bakal cinta ini
sementara wajahmu berpinak di tiap ruang
entah rupa mana sebenar engkau
tiap wajah mengundang tanya mengundang duga
mengundang ketakpastian tempat bertanam
: aku galau
2012
Senin, 20 Agustus 2012
PENCARIAN
aku mencari sorga di garis beradunya ulas bibirmu
manis terkecup meyakinkan sangka,
inilah menyatanya mimpi masa remajaku
namun ternyata bukan:
garis bibirmu adalah tempat dosa mengintai ketat
lalu kucari pula sorga di sembulan menggoda dadamu
nyaman yang hadir menetapkan duga,
inilah pengabulan doa usia belia dahulu
namun ternyata salah:
sembulan dadamu adalah rahasia berlanjutnya hidup
o, perempuanku
sebutkanlah sebenar tempat sorga berada
jika di telapakmu, kuberi izin kauinjak
kedunguan ini
2012
garis bibirmu adalah tempat dosa mengintai ketat
lalu kucari pula sorga di sembulan menggoda dadamu
nyaman yang hadir menetapkan duga,
inilah pengabulan doa usia belia dahulu
namun ternyata salah:
sembulan dadamu adalah rahasia berlanjutnya hidup
o, perempuanku
sebutkanlah sebenar tempat sorga berada
jika di telapakmu, kuberi izin kauinjak
kedunguan ini
2012
PETAKA
ohai, pujangga ...
aksara dah begitu enggan mencumbu hati
a ke z liar menari serampang, di mata
serupa gadis ranum siap dipinang
lalu, mestikah kurangkai sebuah
puisi?
saat ini, kepala dada sedang berduka
meratapi kematian anak semadi
: goresan mangsi
syair yang mawar, hambar sahaja
sampai ke hatimu sebagai sampah kata
penuhi ruang mata dan beku tiada makna
ohai, inilah petaka ...
labirin ini bermula di titik sunyi
sedangkan aku beternak galau
lahirkan ceracau
: gila
Bengkulu, 19 Agustus 2012
Langganan:
Komentar (Atom)