Sabtu, 02 Juni 2012

BILIK REMUK

tak ada rumah dalam istirah senjaku. tiap halaman menyerak bara
sebelum salam. maka kubangun sebuah bilik sederhana. kaca bening
sebagai kanvas napas. bertiang enam kurus-kurus. lalu kuberdiam
bersama seonggok puntung selama peminuman bergelas candu hitam.
cinta, caci maki, rindu, racun ludah, ruah menghentak dinding.
fakirlah alamat malam.

jika saja badai hampir, hanya tiang yang 'kan tersisa. sedang aku
hanya sanggup meratap di sudut berlumut.

Bengkulu, 1 Juni 2012

Selasa, 29 Mei 2012

INI SALAHMU

bapakmu yang dulu calon mertuaku
pernah melarang engkau merangkai senja, menghadang kelam malam, mengelus gigil embun bersamaku.
selalu menjaga engkau dari duka masa depan suram buram bila hidup bertahuntahun denganku.

bapakmu yang iba lalu jadi mertuaku
dan kita merangkai senja berduri saat kelam malam datang menyungkup hati, mereguk embun serupa jarum.
menyatukan cinta satu bahtera tanpa menghitung ganas badai samudera.

ini salahmu, sayang
bapakmu benar adanya bila sekarang ingin jadi mantan mertuaku saja.


gubuk derita, 12/02/2012
(saat hidup tak cukup dengan cinta saja)

BAYANG SEROJA

Berjuta pagi seusai mimpi, kepulan asap kopi dan rokok bersepakat membayang sebentuk kembang. Kelopak berwarna pastel lembut menyentuh kenangan. Teringat pesanmu di kala musim masih wangi, “Jika kaulihat kepulan asap, kopi pun rokok, ingatlah aku sebagai Seroja penghias mimpi.” Selalu kepulan asap membayang pesanmu, lalu aku selama setengah jam lebih beberapa menit akan menikmatinya dalam kedip sekali dua. Seroja mewakili hadirmu di setiap pagi. Penyemangat menantang matahari, pelipur lara sengitnya hari-hari.

Tak pagi ini.
Kepulan asap kopi dan rokok bersepakat tak membayang sebentuk apa. Segenap imaji kukerahkan melukis kelopak berwarna pastel lembut. Kenangan bergeming pada debar jantung yang biasa. Pasi embun basi jatuh selayak pagi di rerumput. Terlalu biasa pagi ini. Tak Seroja, tak pula kembang apa. Kepulan asap perlahan pergi, menggamit matahari berlalu ke balik gumpal mega. Asa memucat pada kelumun sarung, sebatang rokok dan secangkir kopi.

Bengkulu, 22 Januari 2012

MATAHARI REMBULAN

matahari itu rembulan siang, dinda
mengiring langkah sedari purba
menyengat lembab belantara luka
senyum di lengan prahara

rembulan itu matahari malam, dinda
menjaga mimpi sebagai asa
menampung selawat doa-doa
senyum di temaram cinta

matahari rembulan, rembulan matahari

sepasang kekasih yang merindu pertemuan kala senja menepi
ataukah
sepasang seteru yang berebut wangi aroma embun pagi?

entahlah


Bengkulu, 13 Februari 2012

ANDUNG

malam selalu tersenyum dalam sejuta pesan
cerlang cahya bintang petunjuk kafilah setampuk pinang
dalam kalam kalam
kalam dalam dalam
telunjuk tersuruk pada fatwa
laksana pujangga menggumuli aksara
singkirkan lumpur di kilau permata
tabikku sempurna jura


Bengkulu, 13 Februari 2012

TENTANG CAHAYA ITU

Aku tak ingin, sungguh sebenar tak ingin
meninggalkanmu bersendiri di bilik gigil
menggapai cahaya yang berpijar benderang
di sebalik jendela berkaca tipis
Aku sebenar ingin, sungguh
mengajakmu serta dalam lawatan panjang ini
menyeret langkah ke arah terang yang sama
di luar sana, meski bekal tak pada
Namun ini riwayat tak sebatas inginku atau tidak
buku-buku menuntun serupa rambu samar
terhalang kabut ambigu atau segumpal lemak dalam tengkorak
aku masih ragu menyertakanmu
Cahaya itu begitu pendar, benarkah itu tuju?
atau sekadar suar agar kesesatan tak mendera
atau suluh pelawat terdahulu yang tertancap sembarang
atau seberkas entah?

Bengkulu, 19 April 2012

PUISI INI

Otakku kosong menghampa
Serupa ruang sunyi yang dibelit sepi dalam senyap
Ya. Hampa tanpa gravitasi, hanya sepotong puisi melayang-layang di dalamnya
Puisi lawas yang entah kapan menemukan titik
Puisi tentangmu
Hatiku lengang mencekam
Serupa hamparan nisan yang ditikam diam dalam kelam
Ya. Mencekam tanpa bebunyian, hanya sebait puisi meronta-ronta di dalamnya
Puisi usang yang entah kapan mencapai alamat
Puisi untukmu
Kecintaan pada semua tentangmu sungguh menggilakanku
Keinginan menyerahkan segala-galanya kepadamu terlalu menghantuiku
Ya. Kegilaan ini telah terlanjur menghantui diri
Ketakutan bersebab itu pula yang melahirkan puisi
Puisi ini

Bengkulu, 21 April 2012