Rabu, 20 Juni 2012

HIJRAH

Kudapati malam mengusir bulan dengan salak anjing,
selimut awan dan tetes keringatmu. Lalu aroma bunga tanjung
menguar bersama irama lenguh. Kelambu itu melambaikan cinta,
malam terakhir yang sorga. Duhai


Sebelum menguning tanah esok pagi,
aku harus pergi. Naik angkutan umum yang sesak 

atau menunggang kuda sembrani atau bergantungan di angin
Aku harus pergi. Menjauh dari penjaramu, barangkali
ke laut atau gunung atau ke sebuah tempat yang selalu bersalju
atau entah


Tak mungkin lagi senjaku menari samba
bersama indah dosa yang kautawarkan. Episode langit telah lama
bengkalai karena desahmu sorga dan lambaian kelambu itu muara resah

Lepas aku dengan senyum lesung pipi. Minta tujuh helai rambutmu
sebagai pelerai rindu ketika malamku nanti tiada berbulan


Bengkulu, 19 Juni 2012

Selasa, 19 Juni 2012

SEPI INI

setambun bara mendidihkan langit
hingga yang bersisa hanya gelegak
sedangkan hatiku, leleh tanpa gemuruh
tak sempat mengadu pada sajadah air mata
pula laut tak lagi menerima gaduh
alun ombak dengan pasti menujumu saja,
penuh cinta

jeritan unggas laut dibawa sepoi angin
diam-diam seakan mencibiri
kesendirianku

aku tak lagi hendak mencintai langit, laut dan angin
mereka dewa-dewi yang merupa musuh
membiarkan tamanku tak tersiram hingga layu serumpun kembang
menggugah kenangan yang sempat mampu kulupakan
hanya ‘tuk sekadar menyiksaku dalam dahaga
berkepanjangan

dalam sangkar tandus sahara
kutamatkan perjalanan duka
masa lalu terhampar sebagai jejak ziarah
bau tanah dan darah kukemas sebagai hadiah senja


Bengkulu, 14 Juni 2012

AKU MENCINTAIMU, YA, KAMU!

Sebuah Opini Singkat

AKU MENCINTAIMU, YA, KAMU!

KATA nenek saya, dunia ini akan lebih asyik bila setiap orang punya warnanya masing-masing. saya mengamini kata nenek ini, makanya saat masih abg dulu saya sering memaksakan kesepakatan pada otak gadis-gadis untuk menerima apa adanya saya. begitu para gadis itu menerima saya apa adanya, mereka tak lama akan meninggalkan saya. tapi tak apa, itu lebih memuaskan daripada mereka saya tipu dengan menjadi orang lain yang sosoknya mungkin dianggap lebih sempurna.

BEGINI, saya selalu mengapresiasi penggiat seni yang merefleksikan rasa dan atau jiwanya melalui karya. baik sebagai penyampai karya orang lain maupun sebagai penghasil karya baru. pada suatu ketika (dan beberapa ketika lainnya), saya mendengarkan seorang penyanyi dengan suara merdu melagukan lagunya masbro ebiet g. ade. lagu dan syairnya begitu sampai dan ternikmati dengan baik. sayangnya, penyanyi nyaris adalah copy paste ebiet. indah memang dan seakan ebiet hadir di tempat itu. tapi, saya belum dapat menghargai si penyanyi sebagai dirinya. ya, itu tadi. karena dia tampil bukan sebagai dia melainkan sebagai peniru masbro ebiet g. ade.

TIDAK salah meniru idola se-detail mungkin karena meniru sesungguhnya adalah naluri yang manusiawi sekali. barangkali ada kepuasan tersendiri begitu dapat mewujudkan idola secara utuh ke dalam diri kita. silakan, selagi tak ada larangan. semoga saja hal ini bukan karena merasa kurang percaya dengan kemampuan dan penampilan diri sendiri sehingga berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik dengan meniru habis orang lain. menurut saya, belum tentu orang akan mencintai anda ketika bersalin menjadi orang lain yang lebih dahulu terkenal. ketika mencontek nyaris tanpa beda diri seseorang, bukankah kita hanya akan menghadirkan orang tersebut, bukan kita?

MARI mengejar cinta dengan tetap menjadi diri sendiri. seorang idola cukuplah sebagai motivator. si idola dapat terkenal dan eksis sebagai dirinya dan saya dapat pula terkenal dan eksis sebagai diri saya sendiri. cobalah, dan tunggu saja waktunya, akan ada yang datang menyalami sembari berkata, "aku mencintaimu, ya, kamu!"


salam,

Rizadian Adha
18 Juni 2012

LELANG SAJAK

menjelang bulan puasa kuperiksa gudang kata
masih bersisa tiga tumpuk sajak lama
setumpuk sajak cinta
setumpuk sajak duka
setumpuk sajak bunga

kupilah beberapa sajak
rencananya akan kulelang saja
barangkali ada peminat
dan biaya buka puasa bisa selamat

sajak pertama begini rupanya:
BUNDA

kelindan pesonamu memabukkan ayah
maka jadilah aku:
monyet kecil bergantung di tetekmu,
lalu menghapus jejak sorga di telapak
dengan ceceran sperma di rahim banyak beruk betina

Jakarta, Awal 2009

sajak BUNDA ini kulepas dengan harga sepuluh juta rupiah
harga yang pantas untuk sajak
yang ada kata sorganya

lalu sajak kedua siap lelang pula:
SESAT

seperti panji tanpa ular
seperti nahkoda tanpa kompas
seperti simpang tanpa rambu
aku sesat tanpa petunjuk neraka:
aroma vaginamu

2010
sajak ini baiknya jadi bonus saja
bagi pembeli sajak pertama
bukan karena tak indah
semata karena ada kata neraka di dalamnya

o, angin ...
sampaikan maafku pada kata
manakala kuhargai sajak-sajak demi ingin sahaja
dan tepis segala makna

baik, lelang dimulai
maafkanlah!


Bengkulu, 16 Juni 2012

Jumat, 15 Juni 2012

JUDUL YANG MENYUNDUL

JUDUL YANG MENYUNDUL
(Membaca Puisi S Riyanto Hamid)

Penyair S Riyanto Hamid lumayan banyak memajang puisinya di beberapa grup puisi dunia maya. Kali ini di salah satu grup penyair asal Palembang ini memajang puisi dengan judul MOLA HIDATIDOSA. Berawal dari membaca judul, saya tertarik untuk membaca lebih lanjut dan lebih jauh puisi ini. Berikut adalah puisi tersebut:

MOLA HIDATIDOSA

diperam setahun kurang dalam kasih sayang
yang tiada berkelang
aneka cita tersulam sudah, membajui kerinduan
yang lama telanjang
lalu haruskah hanya seuntai anggur
sebagai pelipur?

14/06/2012 di At Tauhid

Memakai judul MOLA HIDATIDOSA, penyair membawa pikiran saya mengarah ke kata DOSA. Entah mengapa kata itu yang menempel di kepala saya sehingga mempengaruhi suasana membaca puisi ini. Sebelumnya saya belum tahu bahwa MOLA HIDATIDOSA itu adalah istilah untuk penyebutan awam: HAMIL ANGGUR yaitu semacam tumor dalam rahim yang berkembang dan membuat si penderita mengira bahwa perkembangan itu adalah perkembangan janin serupa yang terjadi pada sebuah kehamilan.

Larik pertama: “diperam setahun kurang dalam kasih sayang” menyampaikan kisah sebagai pembuka tentang sebuah masa atau waktu yang kurang dari setahun. Ada kegiatan terhadap sebuah objek dalam larik ini yaitu kegiatan “memeram”. Ber-kata dasar “peram” yang berarti kurang lebih sama dengan “menyimpan” yang biasanya berlaku pada buah-buahan. Apakah objek yang diperam selama setahun kurang dalam kasih sayang? Tentu di awal ini saya belum dapat mengira apa objek tersebut. Puisi ini kemudian dilanjutkan dengan larik kedua yang menurut saya barangkali adalah lanjutan dari larik pertama yang dipenggal: “yang tiada berkelang”. Mungkin di sini “berkelang” sama maknanya dengan “berselang” sehingga saya membacanya sebagai kasih sayang tanpa adanya waktu antara (terputus).

aneka cita tersulam sudah, membajui kerinduan

Di atas adalah larik selanjutnya dari puisi S Riyanto Hamid ini. Kata “cita” memiliki arti yang bercabang lumayan banyak. Dalam puisi ini saya mengartikan cita di sini secara denotatif adalah kain sebagai bahan baju. Hal ini karena ada kata “membajui” yang kurang lebih berarti “memakaikan baju pada”. Namun karena ini adalah puisi, maka pada larik ini dapat pula saya tangkap aroma harapan, pengharapan, perasaan mendalam akan sesuatu. Harapanlah rupanya yang telah membungkus sebuah kerinduan.
Kemudian sama dengan awal tadi, larik ini dilanjutkan dengan: “yang lama telanjang”. Menurut saya yang lama telanjang di sini tentulah kerinduan pada larik sebelumnya. S Riyanto Hamid dua kali memenggal larik dengan menuliskan kelanjutannya sebagai sebuah keterangan.

Selanjutnya puisi ini diteruskan dengan:

lalu haruskah hanya seuntai anggur
sebagai pelipur?


Dua larik penutup ini adalah penutup puisi dan saya membacanya tak lain adalah satu larik yang dipenggal: “lalu haruskah hanya seuntai anggur sebagai pelipur?”
Hanya seuntai anggur sebagai pelipur tentulah cukup menimbulkan tanda tanya. Pada satu kesempatan, dilipur atau dihibur dengan seuntai anggur tentulah cukup menyenangkan terutama saat haus atau saat panas yang amat sangat. Tetapi dalam puisi ini dilekatkan kata “hanya” yang menggambarkan suasana “tidak semestinya begini”. Berarti seuntai anggur dalam puisi ini bukanlah hal atau sesuatu yang sesungguhnya diharapkan.
Puisi ini begitu singkat dan meninggalkan tanda tanya di kepala begitu usai membacanya. Hal ini saya rasakan sendiri sehingga menyundul rasa penasaran saya untuk membaca lebih lanjut. Yang pertama saya lakukan adalah mencari tahu apa arti judul puisi ini. Tidak susah, begitu mengetik di search engine langsung ditemukan artinya adalah (seperti sudah ditulis di atas): HAMIL ANGGUR. Maka dengan sendirinya pikiran saya membaca ulang puisi ini dan mendapatkan gambaran sedikit jelas tentang apa yang sebenarnya ingin dikisahkan oleh S Riyanto Hamid.

Bolehlah saya membaca puisi ini sebagai cara berbagi kesan penyair S Riyanto Hamid akan sebuah kejadian. Karena tidak memakai aku lirik, tentu puisi ini dapat saya anggap sebagai kisah saja yang pernah ditemui atau diketahui oleh penyairnya. Kisah tentang kekecewaan seorang wanita yang awalnya berbahagia karena menduga dia hamil. Berbagai harapan dan cita-cita telah dilekatkan pada kehamilan tersebut, dirawat dengan kasih sayang tanpa berselang waktu, disulamnya cita sebagai harapan atas kerinduan mendapatkan seorang bayi sebagai buah hati. Sedih dan kecewa wanita ini karena ternyata kehamilan ini hanyalah hamil anggur yang sebenarnya semacam tumor di kandungan.

Kiranya rahasia dalam puisi ini cukup cepat terbaca setelah mengetahui arti dari judulnya. Karena sedari awal kesan DOSA yang melekat di kepala saya, saya juga mengambil kesimpulan bahwa masih ada orang yang menganggap bahwa wanita yang mengalami kejadian hamil anggur ini adalah sebab dari sebuah dosanya di masa lalu.

Demikian sedikit pemahaman yang dapat saya tangkap setelah membaca puisi MOLA HIDATIDOSA karya S Riyanto Hamid. Mengenai pemahaman sebenarnya tentulah hanya penyair yang lebih paham dan bisa juga pembaca lain akan memiliki pemahaman berbeda.

Salam,

Rizadian Adha
15 Juni 2012

Rabu, 13 Juni 2012

MABUK TERAKHIR

Jenazahku duduk menggenggam segelas bir
Dari mulut membusa puisi cinta. Pelayat saling tikam ingin mengecup
"Buih yang telah lama kami tunggu"
Aroma bulan seperti brownies telat diangkat. Jendela ruang tamu
pasrah dipeluk embun yang datang terlalu gegas

Jenazahku mengangkat tangan kanan. Ini pidato terakhir
Senyap tiba-tiba seperti di-simsalabim mengunci bibir pelayat
Mereka saling tikam dalam diam
Monyet kesayanganku dengan sigap menyerahkan naskah. Dengarlah!
"Subuh nanti dari ketiakku akan menetes madu"

Pelayat sontak menangis dengan raungan bernada minor
Mereka baru sadar aku tlah mati

Bengkulu, 9 Juni 2012