Kudapati malam mengusir bulan dengan salak anjing,
selimut awan dan tetes keringatmu. Lalu aroma bunga tanjung
menguar bersama irama lenguh. Kelambu itu melambaikan cinta,
malam terakhir yang sorga. Duhai
Sebelum menguning tanah esok pagi,
aku harus pergi. Naik angkutan umum yang sesak
atau menunggang kuda sembrani atau bergantungan di angin
Aku harus pergi. Menjauh dari penjaramu, barangkali
ke laut atau gunung atau ke sebuah tempat yang selalu bersalju
atau entah
Tak mungkin lagi senjaku menari samba
bersama indah dosa yang kautawarkan. Episode langit telah lama
bengkalai karena desahmu sorga dan lambaian kelambu itu muara resah
Lepas aku dengan senyum lesung pipi. Minta tujuh helai rambutmu
sebagai pelerai rindu ketika malamku nanti tiada berbulan
Bengkulu, 19 Juni 2012
Rabu, 20 Juni 2012
Selasa, 19 Juni 2012
SEPI INI
setambun bara mendidihkan langit
hingga yang bersisa hanya gelegak
sedangkan hatiku, leleh tanpa gemuruh
tak sempat mengadu pada sajadah air mata
pula laut tak lagi menerima gaduh
alun ombak dengan pasti menujumu saja,
penuh cinta
jeritan unggas laut dibawa sepoi angin
diam-diam seakan mencibiri
kesendirianku
aku tak lagi hendak mencintai langit, laut dan angin
mereka dewa-dewi yang merupa musuh
membiarkan tamanku tak tersiram hingga layu serumpun kembang
menggugah kenangan yang sempat mampu kulupakan
hanya ‘tuk sekadar menyiksaku dalam dahaga
berkepanjangan
dalam sangkar tandus sahara
kutamatkan perjalanan duka
masa lalu terhampar sebagai jejak ziarah
bau tanah dan darah kukemas sebagai hadiah senja
Bengkulu, 14 Juni 2012
AKU MENCINTAIMU, YA, KAMU!
Sebuah Opini Singkat
AKU MENCINTAIMU, YA, KAMU!
KATA nenek saya, dunia ini
akan lebih asyik bila setiap orang punya warnanya masing-masing. saya
mengamini kata nenek ini, makanya saat masih abg dulu saya sering
memaksakan kesepakatan pada otak gadis-gadis untuk menerima apa adanya
saya. begitu para gadis itu menerima saya apa adanya, mereka tak lama
akan meninggalkan saya. tapi tak apa, itu lebih
memuaskan daripada mereka saya tipu dengan menjadi orang lain yang
sosoknya mungkin dianggap lebih sempurna.
BEGINI, saya selalu
mengapresiasi penggiat seni yang merefleksikan rasa dan atau jiwanya
melalui karya. baik sebagai penyampai karya orang lain maupun sebagai
penghasil karya baru. pada suatu ketika (dan beberapa ketika lainnya),
saya mendengarkan seorang penyanyi dengan suara merdu melagukan lagunya
masbro ebiet g. ade. lagu dan syairnya begitu sampai dan ternikmati
dengan baik. sayangnya, penyanyi nyaris adalah copy paste ebiet. indah
memang dan seakan ebiet hadir di tempat itu. tapi, saya belum dapat
menghargai si penyanyi sebagai dirinya. ya, itu tadi. karena dia tampil
bukan sebagai dia melainkan sebagai peniru masbro ebiet g. ade.
TIDAK salah meniru idola se-detail mungkin karena meniru sesungguhnya
adalah naluri yang manusiawi sekali. barangkali ada kepuasan tersendiri
begitu dapat mewujudkan idola secara utuh ke dalam diri kita. silakan,
selagi tak ada larangan. semoga saja hal ini bukan karena merasa kurang
percaya dengan kemampuan dan penampilan diri sendiri sehingga berusaha
sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik dengan meniru habis orang lain.
menurut saya, belum tentu orang akan mencintai anda ketika bersalin
menjadi orang lain yang lebih dahulu terkenal. ketika mencontek nyaris
tanpa beda diri seseorang, bukankah kita hanya akan menghadirkan orang
tersebut, bukan kita?
MARI mengejar cinta dengan tetap menjadi
diri sendiri. seorang idola cukuplah sebagai motivator. si idola dapat
terkenal dan eksis sebagai dirinya dan saya dapat pula terkenal dan
eksis sebagai diri saya sendiri. cobalah, dan tunggu saja waktunya, akan
ada yang datang menyalami sembari berkata, "aku mencintaimu, ya, kamu!"
salam,
Rizadian
Adha
18 Juni 2012
LELANG SAJAK
menjelang bulan puasa kuperiksa gudang kata
masih bersisa tiga
tumpuk sajak lama
setumpuk sajak cinta
setumpuk sajak duka
setumpuk sajak bunga
kupilah beberapa
sajak
rencananya akan kulelang saja
barangkali ada peminat
dan biaya buka puasa bisa selamat
sajak pertama begini rupanya:
BUNDA
kelindan pesonamu memabukkan ayah
maka jadilah aku:
monyet kecil bergantung di tetekmu,
lalu menghapus jejak sorga di telapak
dengan ceceran sperma di rahim banyak beruk betina
Jakarta, Awal 2009
sajak BUNDA ini kulepas
dengan harga sepuluh juta rupiah
harga yang pantas untuk sajak
yang ada kata sorganya
lalu sajak kedua siap lelang pula:
SESAT
seperti panji tanpa ular
seperti nahkoda tanpa kompas
seperti simpang tanpa rambu
aku sesat tanpa petunjuk neraka:
aroma vaginamu
2010
sajak ini baiknya jadi
bonus saja
bagi pembeli sajak pertama
bukan karena tak indah
semata karena ada kata neraka di dalamnya
o, angin ...
sampaikan maafku pada kata
manakala kuhargai sajak-sajak demi ingin
sahaja
dan tepis segala makna
baik, lelang dimulai
maafkanlah!
Bengkulu, 16 Juni 2012
Jumat, 15 Juni 2012
JUDUL YANG MENYUNDUL
JUDUL YANG MENYUNDUL
(Membaca Puisi S Riyanto Hamid)
Penyair S Riyanto Hamid lumayan banyak memajang puisinya di beberapa grup puisi dunia maya. Kali
ini di salah satu grup penyair asal Palembang ini memajang puisi dengan judul MOLA
HIDATIDOSA. Berawal dari membaca judul, saya tertarik untuk membaca
lebih lanjut dan lebih jauh puisi ini. Berikut adalah puisi tersebut:
MOLA HIDATIDOSA
diperam setahun kurang dalam kasih sayang
yang tiada berkelang
aneka cita tersulam sudah, membajui kerinduan
yang lama telanjang
lalu haruskah hanya seuntai anggur
sebagai pelipur?
14/06/2012 di At Tauhid
Memakai judul MOLA HIDATIDOSA, penyair membawa pikiran saya mengarah ke
kata DOSA. Entah mengapa kata itu yang menempel di kepala saya sehingga
mempengaruhi suasana membaca puisi ini. Sebelumnya saya belum tahu
bahwa MOLA HIDATIDOSA itu adalah istilah untuk penyebutan awam: HAMIL
ANGGUR yaitu semacam tumor dalam rahim yang berkembang dan membuat si
penderita mengira bahwa perkembangan itu adalah perkembangan janin
serupa yang terjadi pada sebuah kehamilan.
Larik pertama:
“diperam setahun kurang dalam kasih sayang” menyampaikan kisah sebagai
pembuka tentang sebuah masa atau waktu yang kurang dari setahun. Ada
kegiatan terhadap sebuah objek dalam larik ini yaitu kegiatan “memeram”.
Ber-kata dasar “peram” yang berarti kurang lebih sama dengan
“menyimpan” yang biasanya berlaku pada buah-buahan. Apakah objek yang
diperam selama setahun kurang dalam kasih sayang? Tentu di awal ini saya
belum dapat mengira apa objek tersebut. Puisi ini kemudian dilanjutkan
dengan larik kedua yang menurut saya barangkali adalah lanjutan dari
larik pertama yang dipenggal: “yang tiada berkelang”. Mungkin di sini
“berkelang” sama maknanya dengan “berselang” sehingga saya membacanya
sebagai kasih sayang tanpa adanya waktu antara (terputus).
aneka cita tersulam sudah, membajui kerinduan
Di atas adalah larik selanjutnya dari puisi S Riyanto Hamid ini. Kata
“cita” memiliki arti yang bercabang lumayan banyak. Dalam puisi ini saya
mengartikan cita di sini secara denotatif adalah kain sebagai bahan
baju. Hal ini karena ada kata “membajui” yang kurang lebih berarti
“memakaikan baju pada”. Namun karena ini adalah puisi, maka pada larik
ini dapat pula saya tangkap aroma harapan, pengharapan, perasaan
mendalam akan sesuatu. Harapanlah rupanya yang telah membungkus sebuah
kerinduan.
Kemudian sama dengan awal tadi, larik ini dilanjutkan
dengan: “yang lama telanjang”. Menurut saya yang lama telanjang di sini
tentulah kerinduan pada larik sebelumnya. S Riyanto Hamid dua kali
memenggal larik dengan menuliskan kelanjutannya sebagai sebuah
keterangan.
Selanjutnya puisi ini diteruskan dengan:
lalu haruskah hanya seuntai anggur
sebagai pelipur?
Dua larik penutup ini adalah penutup puisi dan saya membacanya tak lain
adalah satu larik yang dipenggal: “lalu haruskah hanya seuntai anggur
sebagai pelipur?”
Hanya seuntai anggur sebagai pelipur tentulah
cukup menimbulkan tanda tanya. Pada satu kesempatan, dilipur atau
dihibur dengan seuntai anggur tentulah cukup menyenangkan terutama saat
haus atau saat panas yang amat sangat. Tetapi dalam puisi ini dilekatkan
kata “hanya” yang menggambarkan suasana “tidak semestinya begini”.
Berarti seuntai anggur dalam puisi ini bukanlah hal atau sesuatu yang
sesungguhnya diharapkan.
Puisi ini begitu singkat dan meninggalkan
tanda tanya di kepala begitu usai membacanya. Hal ini saya rasakan
sendiri sehingga menyundul rasa penasaran saya untuk membaca lebih
lanjut. Yang pertama saya lakukan adalah mencari tahu apa arti judul
puisi ini. Tidak susah, begitu mengetik di search engine langsung
ditemukan artinya adalah (seperti sudah ditulis di atas): HAMIL ANGGUR.
Maka dengan sendirinya pikiran saya membaca ulang puisi ini dan
mendapatkan gambaran sedikit jelas tentang apa yang sebenarnya ingin
dikisahkan oleh S Riyanto Hamid.
Bolehlah saya membaca puisi
ini sebagai cara berbagi kesan penyair S Riyanto Hamid akan sebuah
kejadian. Karena tidak memakai aku lirik, tentu puisi ini dapat saya
anggap sebagai kisah saja yang pernah ditemui atau diketahui oleh
penyairnya. Kisah tentang kekecewaan seorang wanita yang awalnya
berbahagia karena menduga dia hamil. Berbagai harapan dan cita-cita
telah dilekatkan pada kehamilan tersebut, dirawat dengan kasih sayang
tanpa berselang waktu, disulamnya cita sebagai harapan atas kerinduan
mendapatkan seorang bayi sebagai buah hati. Sedih dan kecewa wanita ini
karena ternyata kehamilan ini hanyalah hamil anggur yang sebenarnya
semacam tumor di kandungan.
Kiranya rahasia dalam puisi ini
cukup cepat terbaca setelah mengetahui arti dari judulnya. Karena sedari
awal kesan DOSA yang melekat di kepala saya, saya juga mengambil
kesimpulan bahwa masih ada orang yang menganggap bahwa wanita yang
mengalami kejadian hamil anggur ini adalah sebab dari sebuah dosanya di
masa lalu.
Demikian sedikit pemahaman yang dapat saya tangkap
setelah membaca puisi MOLA HIDATIDOSA karya S Riyanto Hamid. Mengenai
pemahaman sebenarnya tentulah hanya penyair yang lebih paham dan bisa
juga pembaca lain akan memiliki pemahaman berbeda.
Salam,
Rizadian Adha
15 Juni 2012
Rabu, 13 Juni 2012
MABUK TERAKHIR
Jenazahku duduk menggenggam segelas bir
Dari mulut membusa puisi cinta. Pelayat saling tikam ingin mengecup
"Buih yang telah lama kami tunggu"
Aroma bulan seperti brownies telat diangkat. Jendela ruang tamu
pasrah dipeluk embun yang datang terlalu gegas
Jenazahku mengangkat tangan kanan. Ini pidato terakhir
Senyap tiba-tiba seperti di-simsalabim mengunci bibir pelayat
Mereka saling tikam dalam diam
Monyet kesayanganku dengan sigap menyerahkan naskah. Dengarlah!
"Subuh nanti dari ketiakku akan menetes madu"
Pelayat sontak menangis dengan raungan bernada minor
Mereka baru sadar aku tlah mati
Bengkulu, 9 Juni 2012
Langganan:
Postingan (Atom)

